Gerimis (Gerakan Literasi Kamis), 9 April 2026 pagi di SMKN 1 Gandapura, dikemas unik dan menyenangkan. Siswa diajak bermain permainan tradisional seperti Pecah piring, Slimbang, Main karet, Engklek, layang, petak umpet, catur, jalan menggunakan batok kelapa, mobil-mobilan dari botol bekas dan bermain kelereng.
Selain mempererat kebersamaan, kegiatan ini juga membangkitkan kecintaan terhadap budaya lokal yang mulai ditinggalkan.
Gerimis hari ini menuai pujian karena menyajikan kegiatan yang edukatif, menyenangkan, dan penuh nilai.
Sejak pagi, halaman sekolah sudah dipenuhi siswa yang penasaran menyaksikan jalannya permainan tradisional.
Setiap tawa pecah ketika ada peserta yang terjatuh atau melakukan kesalahan, lalu bangkit kembali dengan penuh semangat untuk melanjutkan permainan. Namun tantangan itulah yang membuat permainan semakin seru.
Feri Irawan, Kepala SMK Negeri 1 Gandapura, melalui WKS Bidang Kesiswaan, Nurliana, mengatakan permainan tradisional dipilih bukan sekadar untuk kegiatan Gerimis, tetapi juga sebagai upaya memperkenalkan dan melestarikan permainan tradisional.
Menurutnya, generasi muda kini semakin jarang mengenal permainan rakyat yang dulu begitu akrab dalam keseharian anak-anak Bireuen.
“Dengan terlaksananya permainan tradisional ini, kami berharap siswa dapat menumbuhkan semangat mengisi literasi dengan tetap menjaga tradisi dan budaya daerah. Permainan seperti ini tidak hanya seru, tapi juga sarat makna tentang kebersamaan dan perjuangan,” ujar Bu Ana, panggilan akrab Nurliana.
Bagi siswa, permainan ini menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus penuh pelajaran. Tidak hanya soal adu cepat, tetapi juga bagaimana menjaga kekompakan, berani mencoba hal baru, dan tetap menjunjung nilai sportivitas.
Lebih dari itu, Gerimis menjadi ruang untuk merajut kebersamaan, menghidupkan kembali permainan tradisional, serta menanamkan rasa bangga pada identitas lokal.
Bagi masyarakat Bireuen, permainan yang disebutkan di atas bukan sekadar permainan, melainkan bagian dari warisan budaya yang mengajarkan ketangkasan dan daya juang.
Dengan dihidupkan kembali dalam momen Gerimis, permainan ini sekaligus menjadi simbol bahwa pembangunan harus diisi dengan menjaga nilai-nilai luhur bangsa, termasuk budaya yang diwariskan oleh leluhur.
Penulis/editor Fodic
