Pembiasaan Siswa SMKN 1 Gandapura: Stop Engine di Pintu Gerbang Sekolah

Pendidikan karakter di SMKN 1 Gandapura direalisasikan salah satunya dengan pembiasaan mematikan mesin motor, dan dilanjutkan menyapa guru yang menunggu kedatangan siswa dari rumah. Hal ini merupakan bentuk penanaman etika sopan santun yang harus dimiliki siswa.

SMKN 1 Gandapura telah menerapkan pembiasaan mematikan mesin motor saat memasuki lingkungan sekolah. Setelah mematikan mesin motor, mereka diwajibkan untuk turun dari motor dan menyapa bapak/ibu guru piket dengan senyuman hangat dan menundukkan kepala. Bapak/ibu guru piket juga memiliki kewajiban yang sama untuk menyapa kembali peserta didik yang lewat sebagai bentuk penanaman nilai sosial dan religius. 

Pembiasaan mematikan mesin motor sebagai salah satu upaya penerapan pendidikan karakter kedisiplinan. Pembiasaan ini sebenarnya bukanlah sebuah proses yang mudah untuk dilakukan. Diperlukan proses yang panjang sekitar dua sampai tiga tahun agar hal ini dapat diterapkan dengan cukup baik. 

Pembiasaan program ini tentunya juga memerlukan dukungan dari berbagai pihak termasuk para guru, tendik dan juga orang tua. Kegiatan tersebut akan berhasil jika semua pihak bahu-membahu membantu menertibkan siswa dengan penuh ketelatenan. Kesadaran dan kesabaran tentunya juga sangat diperlukan dalam upaya menyukseskan program ini

Selain meminta peserta didik untuk mematikan mesin motor, guru dan tendik juga ikut serta berpartisipasi dalam program ini, yakni seperti yang sudah disebutkan tadi, dengan menyapa seluruh peserta didik ketika memasuki lingkungan SMKN 1 Gandapura. Dengan begitu peserta didik akan merasa dihargai dan dihormati, karena kedatangannya disambut, sehingga hubungan kedekatan guru dan peserta didik semakin meningkat. 

Keteladan juga ditampilkan, dengan menyapa dan bersalaman bersama siswa juga belajar mengenai etika yang dalam bahasa Aceh disebut budaya “peugah haba” atau bertegur sapa. Selain itu dampaknya juga berpengaruh pada psikologis peserta didik maupun guru salah satunya yaitu terbentuknya kesiapan mengajar maupun menerima pelajaran. 

Pada program ini, dampak terhadap lingkungan sekolah juga sangat dirasakan. Selain mengurangi asap kendaraan, suasana damai tentunya juga dirasakan karena tidak ada gangguan suara knalpot motor. Selain itu, bersantai juga pelan-pelan tercipta. 

Idealnya ketika keluar dari tempat parkir sekolah juga begitu, minimal sampai gerbang baru dinyalakan lagi. Namun ini bukanlah hal yang mudah, memerlukan waktu yang cukup lama. Jika program ini sepenuhnya bisa berjalan dengan baik, tidak hanya kedisiplinan saja yang dirasakan, tapi juga bisa jadi salah satu keunggulan sekolah yang jarang dimiliki oleh sekolah lain dan tentunya juga belajar menerapkan budaya industri mengenai kedisiplinan dan Aman. (SR)


Lebih baru Lebih lama