SMKN 1 Gandapura Peringati HDA XXI dan HUT ke-81 RI dengan Zikir dan Do'a



 SMKN 1 Gandapura menggelar Zikir, Do'a, dan Tausiah dalam rangka memperingati Hari Damai Aceh (HDA) XXI dan HUT ke-81 RI, Jum'at (14/8) pagi di halaman upacara sekolah.

Kegiatan ini menjadi momentum untuk merefleksikan kembali makna kemerdekaan dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala SMKN 1 Gandapura, Feri Irawan,  SSi MPd, dalam sambutannya menyampaikan bahwa ‎kemerdekaan tidak semestinya berhenti pada upacara, pengibaran bendera, atau perlombaan tujuh belasan. Kemerdekaan harus diterjemahkan menjadi kesempatan bagi setiap anak untuk memperoleh pendidikan yang bermutu, belajar dengan aman, berpikir kritis, berkembang sesuai potensinya, dan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan.‎

‎Sebab, jika para pejuang dahulu berjuang membebaskan bangsa dari penjajahan, maka perjuangan generasi hari ini adalah membebaskan manusia Indonesia dari kebodohan, keterbatasan akses, ketertinggalan literasi, kesenjangan digital, dan ketidakmampuan beradaptasi dengan perubahan zaman.‎

"‎Di sinilah ruang kelas menjadi medan perjuangan baru. ‎Inilah makna penting pendidikan dalam mengisi kemerdekaan," pesan Feri.

Lebih lanjut, Feri Irawan, ‎guru pun memiliki posisi yang sangat strategis. Guru bukan sekadar penyampai materi pelajaran, tetapi juga pembentuk karakter dan inspirasi bagi peserta didik. Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi, kehadiran guru justru semakin penting, ujarnya.

Teknologi dapat memberikan jawaban, tetapi guru mengajarkan bagaimana manusia menggunakan jawaban tersebut untuk kebaikan. ‎Kecerdasan buatan dapat membantu menyelesaikan soal, tetapi guru perlu mengajarkan mengapa seseorang harus belajar. Internet dapat menyediakan jutaan informasi, tetapi guru membantu siswa membedakan antara fakta dan hoaks. Teknologi dapat mempercepat pekerjaan, tetapi pendidikan harus memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap berpijak pada nilai kemanusiaan, paparnya 

"‎Dalam konteks inilah perayaan kemerdekaan di sekolah seharusnya memiliki makna yang lebih dalam.‎


‎Ketika siswa mengikuti lomba, mereka belajar sportivitas. Ketika mereka bekerja dalam kelompok, mereka belajar gotong royong. Ketika mereka mengikuti upacara, mereka belajar menghargai sejarah. Ketika mereka menyanyikan lagu kebangsaan, mereka belajar tentang identitas. Ketika mereka membersihkan lingkungan sekolah, mereka belajar tanggung jawab," ungkapnya.

Feri menjelaskan, Aceh membutuhkan generasi yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat. Generasi yang mampu bersaing secara global tanpa kehilangan identitas sebagai suku Aceh dan bangsa Indonesia.

"‎Karena itu, mari kita bawa semangat Agustus ke dalam ruang kelas.‎ ‎Kini, tugas kita adalah mengisi kemerdekaan itu dengan pendidikan yang mencerdaskan, memanusiakan, dan memajukan bangsa, jelas Feri.

Menurutnya, kebahagiaan seharusnya diisi dengan perbuatan yang bermanfaat dan kontribusi dalam kebaikan. Setiap orang dapat mengisi kemerdekaan melalui tugas dan tanggung jawab yang dijalankannya.

“Isi kemerdekaan dengan tetap berkontribusi dalam kebaikan, menjalankan pekerjaan kita masing-masing sesuai dengan tupoksi kita masing-masing,” katanya.

Feri Menambahkan menambahkan, memperbanyak zikir dan doa menjadi salah satu bentuk rasa syukur atas kebahagiaan yang telah dinikmati.

Nilai kemerdekaan yang diharapkan tidak hanya dirasakan secara lahiriah, tetapi juga menghadirkan ketenangan batin.

Ketua Panitia HUT ke-81 Kemerdekaan RI SMKN 1 Gandapura, Nurliana, M.Pd, mengatakan zikir, doa, dan tauziah merupakan bagian dari rangkaian peringatan HDA XXI dan HUT Kemerdekaan RI yang dilaksanakan tahun ini.

“Kegiatan ini bertujuan agar para siswa dapat memaknai kemerdekaan,” ujarnya. (SR)

Lebih baru Lebih lama