SMK Negeri 1 Gandapura melaksanakan penanaman pohon dalam rangka Peringatan Hari Kartini dengan tema “Kartini Vokasi Aceh: Membangun Ekonomi Bangsa dari SMK”, Selasa 21 April 2026. Acara ini berlangsung di lingkungan SMKN 1 Gandapura.
Seperti slogan Habis Terang Terbitlah Terang. Namun kegelapan yang mengancam hari ini bukan sekadar kejahatan dan ketidaksetaraan, melainkan juga krisis iklim, degradasi lingkungan, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan. Oleh karena itu, dalam semangat Kartini, perempuan-perempuan SMKN 1 Gandapura melakukan aksi "Satu Kartini, Satu Pohon", yakni penanaman bibit pohon secara serentak oleh siswi dan guru perempuan di area hijau sekolah sebagai bentuk warisan untuk masa depan.
Perempuan memiliki hubungan historis dan emosional yang kuat dengan alam. Dalam banyak komunitas adat dan pedesaan, merekalah yang paling dekat dengan sumber daya alam. Tak heran jika dalam konteks perubahan iklim, perempuan sering disebut sebagai kelompok yang paling rentan sekaligus paling tangguh dan menjadi agen utama dalam pelestariannya.
Di berbagai penjuru dunia pun, perempuan menjadi pemimpin dalam advokasi iklim dan gaya hidup berkelanjutan. Greta Thunberg dari Swedia, Vanessa Nakate dari Uganda, hingga Melati Wijsen dari Bali, semuanya mengangkat suara untuk bumi yang lebih adil. Mereka melawan sistem yang tidak ramah lingkungan dan tidak berpihak pada ekologis.
Jika Kartini dulu menulis surat untuk membuka ruang berpikir, perempuan masa kini menggerakkan komunitas untuk menyelamatkan bumi.
Kita bisa melihat bagaimana tokoh seperti Vandana Shiva di India memperjuangkan benih lokal dan pertanian berkelanjutan melawan dominasi korporasi agrikultur. Greta Thunberg di Swedia menggugah dunia dengan keberaniannya menantang para pemimpin global atas kelambanan mereka dalam menghadapi krisis iklim. Di Indonesia, kita mengenal Aleta Baun, "Mama Aleta" dari Nusa Tenggara Timur, yang memimpin perempuan adat Mollo melakukan penambangan marmer di tanah leluhur mereka melalui aksi memberi izin di lokasi tambang. Ada juga Farwiza Farhan dari Aceh yang melindungi ekosistem Leuser, hutan hujan tropis terakhir di Sumatra. Mereka semua adalah Kartini masa kini, yang menjadikan cinta pada bumi sebagai bentuk tertinggi dari perjuangan.
Feri Irawan Kepala SMKN 1 Gandapura mengutarakan, dengan melibatkan perempuan dalam menanam ini sangat tepat untuk meningkatkan perannya dalam berkarya menuju sekolah ASRI
Ianya menyatakan bahwa sudah sekolah menyiapkan 45 pohon tanam berbuah, seperti Sawo, Mangga, Kelengkeng, Rambutan, Jeruk Bali, Kedondong, Kelapa Hibrida, hingga Jeruk Lemon dan Kasturi untuk ditanam bersama perempuan-perempuan hebat SMKN 1 Gandapura. Panitia sekolah telah menyiapkan 45 titik lokasi tanam di area lingkungan sekolah.
Kegiatan penanaman pohon dipimpin oleh Kepala SMKN 1 Gandapura, Feri Irawan, SSi MPd, didampingi oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Nurliana MPd, WKS Bidang Kurikulum Safriani, SPd, dan WKS Bidang Humas Julaidar, MPd, Koordinator kegiatan Jufriadi, SP serta diikuti oleh para ASN perempuan dan siswa-siswi, dan berbagai pihak terkait lainnya.
Feri Irawan menekankan pentingnya peran perempuan dalam kegiatan ini untuk meningkatkan kontribusi mereka dalam memajukan SMKN 1 Gandapura menuju kesejahteraan yang berkelanjutan.
“Mari kita gelorakan Hari Kartini lebih hijau tahun ini dengan menanam bersama perempuan. Gerakan revolusi hijau memang terus digelorakan SMKN 1 Gandapura.
Dia juga menyoroti pentingnya dukungan dari semua warga sekolah untuk gerakan penanaman pohon ini sebagai upaya untuk menjaga kelestarian sumber daya alam yang sangat penting bagi kehidupan manusia.
Penulis SR
Editor Humas





