SMKN 1 Gandapura Gelar Upacara Hari Kartini, Kepsek: Ajak Perempuan Masa Kini untuk Menyelamatkan Bumi


Dalam rangka memperingati Hari Kartini tahun 2026, SMKN 1 Gandapura melaksanakan upacara bendera, Selasa (21/4) pagi. Kegiatan ini berlangsung dengan khidmat di halaman sekolah dan diikuti oleh seluruh murid serta bapak ibu guru. 

Bertindak sebagai pembina upacara, Bapak Feri Irawan, SSi ,M.Pd selaku Kepala SMKN 1 Gandapura,  menyampaikan amanat yang menginspirasi tentang peran perempuan masa kini.


Dalam arahannya, Feri Irawan menyampaikan, Hari Kartini bukan sekadar peringatan sejarah, tapi momentum untuk mengingat bahwa perjuangan kesetaraan gender dan akses pendidikan masih sangat relevan hingga hari ini. Melalui tema dan aktivitas yang tepat, kita dapat menyalakan semangat Kartini di hati setiap orang, dari siswa hingga profesional, dari keluarga hingga masyarakat luas.

“Jika Kartini dulu menulis surat untuk membuka ruang berpikir, perempuan masa kini menggerakan komunitas untuk menyelamatkan bumi," ujar Feri Irawan di hadapan seluruh peserta upacara.


Feri bercerita, di berbagai penjuru dunia pun, perempuan menjadi pemimpin dalam advokasi iklim dan gaya hidup berkelanjutan. Greta Thunberg dari Swedia, Vanessa Nakate dari Uganda, hingga Melati Wijsen dari Bali, semuanya mengangkat suara untuk bumi yang lebih adil. Mereka melawan sistem yang tidak ramah lingkungan dan tidak berpihak pada ekologis.

Lanjutnya, secara lebih dekat, perjuangan perempuan untuk lingkungan bisa hadir dalam praktik sehari-hari: dari dapur yang memilih bahan lokal, pasar yang mempromosikan produk organik, hingga rumah yang mulai mengurangi plastik.






Oleh karena itu, perempuan memiliki hubungan historis dan emosional yang kuat dengan alam. Dalam banyak komunitas adat dan pedesaan, merekalah yang paling dekat dengan sumber daya alam. Tak heran jika dalam konteks perubahan iklim, perempuan sering disebut sebagai kelompok yang paling rentan sekaligus paling tangguh dan menjadi agen utama dalam pelestariannya, jelasnya.

Bertemakan "Kartini Vokasi Aceh: Membangun Ekonomi Bangsa dari SMKN 1 Gandapura, Feri Irawan mengajak seluruh siswa-siswi, khususnya para siswi, untuk terus mengembangkan diri dan tidak ragu menunjukkan kemampuan serta bakat yang dimiliki. Pesan ini sejalan dengan semangat RA Kartini yang memperjuangkan hak pendidikan dan kebebasan berpikir bagi perempuan Indonesia.

Di akhir amanatnya, Feri memberi contoh perempuan bernama Vandana Shiva di India yang memperjuangkan benih lokal dan pertanian berkelanjutan melawan dominasi korporasi agrikultur. Lalu, ada Greta Thunberg di Swedia yang menggugah dunia dengan keberaniannya menantang para pemimpin global atas kelambanan mereka dalam menghadapi krisis iklim. 

Di Indonesia, ada Aleta Baun, "Mama Aleta" dari Nusa Tenggara Timur, yang memimpin perempuan adat Mollo melakukan penambangan marmer di tanah leluhur mereka melalui aksi memberi izin di lokasi tambang. Ada juga Farwiza Farhan dari Aceh yang melindungi ekosistem Leuser, hutan hujan tropis terakhir di Sumatra. Mereka semua adalah Kartini masa kini, yang menjadikan cinta pada bumi sebagai bentuk tertinggi dari perjuangan, jelas Feri.

Upacara berlangsung dengan tertib dan penuh semangat. Kegiatan ini menjadi momen penting dalam menanamkan nilai-nilai perjuangan Kartini sekaligus memperkuat karakter siswa sebagai generasi penerus bangsa yang menjunjung kesetaraan dan keadilan.

Di era modern, semangat Kartini menginspirasi kita semua terutama generasi muda untuk terus memperjuangkan keadilan, kebebasan berpikir, dan pemberdayaan perempuan dalam segala bidang kehidupan.

Lebih lanjut, menjadi Kartini vokasi masa kini berarti tangguh dalam belajar, kreatif dalam berkarya, dan berani mendobrak keterbatasan untuk mandiri.

Terlihat upacara Hari Kartini melibatkan seluruhnya murid dan guru perempuan dengan mengenakan pakaian kebaya hitam dipadukan dengan selendang, rok  batik, dan jilbab hitam polos.

Sementara, guru laki-laki memakai baju hitam, celana hitam, dipadukan dengan kain batik serta peci hitam.

Selesai upacara, dilanjutkan Deklarasi Kartini Hijau: Gerakan Sayangi Bumi.  Seperti slogan "Habis gelap terbitlah terang", bahwa kegelapan yang mengancam hari ini bukan sekadar kejahatan dan ketidaksetaraan, melainkan juga krisis iklim, degradasi lingkungan, hingga  ancaman terhadap ketahanan pangan, tutur Feri.

"Dalam semangat Kartini, perempuan-perempuan SMKN 1 Gandapura  harus tampil di garis depan, kali ini sebagai penjaga bumi  (save earth) melalui komitmen penggunaan tumbler secara massal. Seluruh murid, guru, dan tenaga kependidikan sekolah mengangkat tumbler masing-masing sebagai simbol pengurangan sampah plastik sekali pakai", ajaknya.

Kegiatan selanjutnya, ada aksi "Satu Kartini, Satu Pohon", yakni penanaman bibit pohon secara serentak oleh  siswi dan guru perempuan (Kartini SMKN 1 Gandapura) di area hijau sekolah sebagai bentuk warisan untuk masa depan.

Jika Kartini dulu menulis surat untuk membuka ruang berpikir, perempuan masa kini menggerakkan komunitas untuk menyelamatkan bumi dan mampu membawa perubahan positif melalui kreasi dan inovasi, melanjutkan semangat perjuangan emansipasi dengan karya nyata.

Kartini Vokasi adalah mereka yang berani menembus batasnya, dan itu ada di  perempuan-perempuan  Skandara (singkatan dari SMKN 1 Gandapura).

Penulis SR

Editor Humas

Lebih baru Lebih lama